Parigi Moutong

TPM Sebut Proses Penangkapan Terduga Teroris di Parimo Melanggar HAM

Foto Ilustrasi Densus 88 (JIBI/Solopos/Burhan Aris Nugraha)

PARIGI MOUTONG, KabarSelebes.com – Keluarga terduga teroris Irhan Hana Yojo Bento menunjuk Tim Pengacara Muslim (TPM) Sulawesi Tengah sebagai kuasa hukumnya. Mewakili keluarga serta warga Desa Pangi, Kabupaten Parigi Moutong, TPM sangat mengutuk keras atas tidakan yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror dalam meringkus Irhan.

Perwakilan TPM Sulteng, Andi Akbar mengatakan, proses penangkapan yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror tesebut sangat tak berperikemanusiaan dan melangga Hak Asasi Manusia (HAM).

“Kami juga selaku pihak kuasa hukum sampai saat ini belum diberitahukan. Yang sangat fatalnya, proses penangkapan itu yang tidak berperikemanusiaan, karena dalam proses penangkapan tidak sesuai dengann proses perundang-undangan yag berlaku. Salah satunya pada saat penangkapan, Irhan ditabrak berdasarkan pernyataan saksi mata, kemudian diikat, seakan-akan beliau membahayakan petugas, padahal Irhan tidak membahayakan,” ujarnya Jumat, (10/3/2017) Malam.

Kata Andi Akbar, pemerintah bersama masyarakat Desa Pangi menyatakan keberatan atas insiden pengangkapan terhadap Irhan Hana yang dinilai melanggar hak asasi manusia itu.

“Kami juga belum diberitahukan sampai saat ini, dia (Irhan) ditangkap oleh tim apa dan atas dugaan apa, kami juga sayangkan bahwa pihak aparat tak memberikan pemberitahuan kepada kami, keluarga atau pemerintah setempat. Kalau memang ada pemberitahuan, kami warga di daerah ini juga memberikan ruang. Cuman sampai detik ini, klien kami belum mengetahui beritanya,” ungkapnya.

Untuk menindaklanjuti hal itu, dalam waktu dekat ini TPM Sulteng secepatnya akan menyurati pihak DPRD Parimo, DPRD Sulteng, DPR RI, Komnas HAM dan Kompolnas. Jika tidak ditanggapi, pihaknya bersama warga akan melakukan aksi besar-besaran mengutuk tindakan tersebut.

“Yang jelas kami selaku kuasa hukum akan melakukan langkah-langkah strategis kami. Karena jelas, kami sangat mengutuk proses penangkapan yang tak sesuai dengan prosedur hukum dan tak berperikemanusiaan. Kami tidak akan tinggal diam atas aksi-aksi penangkapan oleh tim densus 88 itu,” tegasnya.

Untuk itu Andi Akbar berharap, agar pihak Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah segera meberitahukan keberadaan Irhan Hana dan kondisinya sekarang juga. Keluaraga terduga juga diminta dapat dipertemukan dengn Irhan Hana.

“Meskipun kami juga mengetahui dalam undang-undang terorisme 7 kali 24 jam tidak bisa ditemui karena masih dalam proses pemeriksaan, tapi harus adil juga, yang kami sayangkan selama ini dalam proses penangkapan, 7 kali 24 jam tidak bisa ditemui, tapi ada sebagian orang yang tidak diketahui aksesnya justu dimudahkan,” tuturnya.

“Selama ini kasus terorisme sangat diskriminatif, salah satunya persidangan, semua dilakukan di Jakarta. Padahal dalam undang-undang sangat jelas bahwa proses persidangan dilakukan di daerah kejadian. Kami tak mau lagi terulang kejadian-kejadian penangkapan seperti halnya di Poso, yang ditangkap bahkan ditembak mati,” tambahnya.

Sementara itu, Istri Terduga Teroris Irhan Hana, Rahmi (35) mengaku kaget atas penagkapan yang dilakukan oleh pihak aparat. Karena menurutnya suaminya tidak pernah terlibat dalam jaringan kelompok radikal.

“Kesehariannya hanya berprofesi jual beli arang (tempurung kelapa). Jam keluar kerja dan pulang itu saya tahu. Saya minta suami saya dibebaskan,” ujarnya singkat.

Sebelumnya, Irhan Hana Yojo Bento dibekuk oleh Densus 88 Antiteror di Dusun III, Desa Pangi, Kacamatan Parigi Utara, Kabupaten Parimo Sulawesi Tengah, sekira pukul 11.00 wita. Menurut keterangan saksi mata yang melihat proses penangkapan, Irhan Hana ditabrak saat mengendarai motor, kemudian diikat.

Hari pengangkapan Irhan Hana, bersamaan dengan delapan terduga teroris lainnya di Parimo dan Tolitoli.

Di Hari yang sama juga, salah satu warga Desa Pangi, David, dinyatakan hilang oleh keluarga. David hilang kontak saat berangkat dari Kota Palu menuju Parigi membawa panci dan piring karena akan pindah rumah di Desa Pangi. Keluarga menduga, hilangnya David tersebut ada kaitanya dengan penangkapan sembilan tertuga teroris di dua kabupaten di Sulteng tersebut. (Faiz)

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top