Kolom Anda

Pesona Budidaya Mutiara di Teluk Tomini Parigi Moutong

fardi kallang

Oleh : Fardi Kallang

RIBUAN bola hitam yang berbaris rapi di atas permukaan laut menjadi objek pemandangan dan tak jarang mengundang tanya bagi pengendara yang melintas di Desa Pesona, Kasimbar, Parigi Moutong. Bola plastik itu merupakan pelampung dari budidaya kerang mutiara yang ada di teluk tomini yang berfungsi untuk mengapungkan tali longline tempat bergantungnya pocket (keranjang pemeliharaan) kerang mutiara.

Salah satu potensi besar yang ada di perairan Indonesia termasuk di teluk tomini yang mempunyai prospek cerah untuk dibudidayakan adalah kerang mutiara. Kerang mutiara merupakan salah satu komoditas dari sektor kelautan dan perikanan yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa mendatang.

Kerang mutiara berasal; dari spesies Pinctada Maxima dengan genus Pinctada. Hewan ini berasal dari family Pteridae, ordo Anysomyaria, dan dari klas Pelecypoda. Kerang mutiara juga diketahui berasal dari philum Mullusca, sub kingdom Invertebrata atau hewan tak bertulang belakang, dan dari kingdom Animalia.

Mutiara adalah salah satu jenis perhiasan dihasilkan oleh kerang yang tersimpan di antara dua cangkang keras dimana berfungsi sebagai pelindung bagi hewan tersebut. Cangkang yang keras tersebut terbentuk dari zat kapur yang berasal dari epithel luar. Bentuk dari cangkang tersebut tidak simetris dan memiliki pola garis-garis.

Proses pembentukan mutiara di dalam kerang diawali dengan masuknya irritant yang berupa benda padat ke dalam cangkang dan mantel kerang mutiara. Irritant yang dimaksud yaitu bisa berupa pasir laut ataupun benda-benda padat lainnya. Selanjutnya irritant yang masuk ke mantel kerang mutiara akan terbungkus oleh nacre dan menjadi mutiara yang harganya sangat mahal. Proses tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum kerang yang sangat bernilai bisa didapatkan.

Harga mutiara di pasaran sangat mahal, konon harga untuk mutiara jenis South Sea Pearl yaitu berkisar Rp.300.000,- s/d Rp.1.000.000,- per gramnya untuk kualitas terbaik, oleh karena itu saat ini banyak orang yang mencoba mengembangkan budidaya kerang mutiara.

Jenis kerang mutiara yang di budidayakan di teluk tomini adalah jenis Pinctada maxima atau penghasil mutiara yang dikenal dengan jenis Mutiara Laut Selatan (South Sea Pearls) merupakan jenis mutiara yang terkenal dan terbaik kualitasnya di dunia untuk dijadikan berbagai macam perhiasan mutiara.

Di daerah Kabupaten Parigi Moutong sendiri terdapat tiga lokasi pemeliharaan atau budidaya kerang mutiara yakni di desa Pesona Kasimbar, Palasa dan di Desa Pinotu Toribulu. Ketiga tempat tersebut dikelolah oleh perusahaan milik swasta. Keberadaan budidaya kerang mutiara dengan metode long line tersebut tentunya membawa angin segar bagi masyarakat yang ada di daerah tersebut, pasalnya puluhan orang dapat menjadi tenaga kerja dari perusahaan, dan menjadi tempat praktek lapangan bagi para siswa ataupun mahasiswa serta tempat berkunjung wisatawan selain itu dari sisi ekologis keberadaan budidaya kerang mutiara tidak menurungkan kualitas perairan karena budidaya kerang mutiara sangat ramah lingkungan.

Permasalahan utama dari budidaya kerang mutiara di daerah parigi adalah kondisi perairan yang tidak sesuai dengan pertumbuhan/pembesaran kerang mutiara sehingga budidaya kerang mutiara yang ada di Kabupaten Parigi tidak dilakukan sampai kerang menghasilkan mutiara yang siap jual (panen), kegiatan pemeliharaan hanya dilakukan sampai siput kerang berumur sekitar dua tahun kemudian di pindahkan ke daerah Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk kemudia di lakukan pembesaran lanjutan sampai masa panen. Berdasarakan informasi dari pengelola bahwa kondisi perairang di teluk tomini belum bisa menghasilkan mutiara dengan kualitas yang baik.

Berdasarkan data yang tercatat di Stasiun karantina ikan Pengendalian mutu dan keamanan hasil perikanan kelas I palu sebanyak 35.400 ekor siput kerang mutiara dilalulintaskan kedaerah kupang, flores NTT dan daerah Pare-pare Sulsel pada tahun 2015, sementara tahun di 2016 meningkat 177% sebanyak 98.383 ekor siput kerang mutiara sudah dilalulintaskan kedaerah Kupang, NTT dengan menggunakan alat angkut kapal laut setelah dilakukan pemeriksaan secara klinis dan laboratis dan dipastikan bebas dari hama dan penyakit ikan karantina (HPIK) golongan parasit Parkinsus Marinus.

Fase budidaya kerang mutiara mulai dari pembenihan sampai bisa dipanen pertama kali membutuhkan waktu hingga empat tahun. Proses panjang inilah yang membuat mutiara air laut mahal, tentu selain karena keindahannya. Namun dibalik harga yang mentereng, budidaya kerang mutiara terhitung padat modal, dan membutuhkan teknologi tinggi dalam budidaya sehingga komoditas ini tidak marak dibudidayakan.

Keberadaan budidaya kerang mutiara di teluk tomini saat ini tentunya menjadi bukti nyata bahwa daerah ini memiliki potensi sumber daya perikanan yang melimpah. Besar harapan, dengan modal sumber daya alam dan manusia yang ada serta dukungan dari instansi terkait dan pemerintah setempat Kubupaten Parigi Moutong mampu menghasilkan mutiara laut yang berkualitas.

(Penulis adalah Fungsional PHPI Pada Kantor Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Palu.)

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top