Ekonomi

Hindari Investasi Bodong, Ini Saran OJK Sulteng

ILUSTRASI

PALU, KabarSulteng.com – Banyaknya perusahaan Investasi bodong di Sulawesi Tengah berkedok multi level marketing (MLM), yang mana prakteknya dengan jual beli obat tanpa disertai khasiat yang jelas, serta tidak berdasarkan hasil peneliitan sebelumnya.

Hal itu sedikit membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perwakilan Sulawesi Tengah sedikit gerah. Pasalnya, tidak sedikit aduan terkait permasalahan investasi bodong seperti ini masuk ke OJK Sulteng.

Staf Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Wahyu mengatakan, banyaknya perusahaan investasi berkedok jual beli obat dengan memakai sistem MLM, diakuinya saat ini sudah semakin banyak di wilayah Sulawesi Tengah.

Bahkan tercatat, tidak lebih dari 10 perusahaan investasi dengan kedok yang hampir sama, saat ini beroperasi di wilayah Sulteng.

“Saat ini pak, yang tercatat dari kami, tidak lebih dari 10 perusahaan investasi bodong berada di wilayah Sulteng,” ungkap Wahyu belum lama ini.

Jelas Wahyu, dalam prakteknya, perusahaan tersebut mengiming–imingi masyarakat dengan menjual obat dapat memperoleh keuntungan yang besar dengan modal yang dikeluarkan sebelumnya kecil. Namun begitu, Setiap orang sebelumnya diharuskan untuk mencari orang lain lagi, agar semakin meningkatkan hasil penjualan.

Hal ini dianggap OJK Sulteng, masuk sebagai bentuk invesitasi bodong, dan untuk di wilayah Sulteng perusahaan seperti ini umumnya merupakan anak cabang dari wilayah Pulau Jawa.

Lebih lanjut wahyu mengutarakan, wilayah yang dipimpin Longki Djanggola, oleh OJK Sulteng memasukanya dalam kategori sedang. Artinya, peluang terjadinya praktek investasi bodong cukup besar.

“Kalau Sulteng ini pak, oleh OJK Sulteng memasukkanya dalam kategori sedang, artinya peluang terjaidnya praktek investasi bodong cukup besar,” jelasya.

Mengantisipasi hal ini, sebenarnya OJK Sulteng bekerjasama dengan Kejaksaan serta Kepolisian setempat membentuk Satuan Tugas (Satgas) yang tugasnya mengawasi kasus seperti ini.

Namun menurutnya, kerena banyaknya permintaan serta ketidaktahuan masyarakat terhadap hal seperti ini, membuat pihaknya tidak mampu mengawasi secara penuh praktek investasi bodong.

“Kenapa banyak kasus ini terjadi pak, karena permintaan di masyarakat yang cukup tinggi serta ketidaktahuan masyarakt terhadap hal-hal seperti ini,” terangnya.

Disarankanya, bagi masyarakat yang ingin melakukan investasi, agar sebelumnya mengkonsultasikan terlebih dahulu ke dinas terkait, seperti halnya OJK Sulteng, Dinas Perdangangan serta pihak terkait lainnya. Agar mencegah serta menghindari kesalahan yang sama terjadi kembali. (Tri Novian)

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top