Nasional

Polri Sebut Bahrun Naim Dibalik Bom Panci Bandung

Kepolisian berhasil menangkap seorang pria terduga teroris yang meledakkan benda yang diduga “Bom Panci” di Taman Pandawa Bandung dan melakukan pembakaran kantor kelurahan Arjuna. (Foto: ANTARA FOTO/NOVRIAN ARBI)

JAKARTA, KabarSelebes.com – Gembong teroris Bahrum Naim warga Indonesia yang kini tinggal di Suriah diduga melalui sel-sel binaannya di Tanah Air diduga terlibat sebagai pengendali dalam aksi bom panci yang meledak di Jalan Pandawa, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Bandung Jawa Barat, Senin (27/2/2017).

Bahrun Naim alias Anggih Tamtomo alias Abu Rayan tidak saja mengendalikan berbagai aksi teroris di Indonesia dari luar negeri, juga bersama kelompok Jamaah Anshar Daulah (JAD) melakukan aksi sama di Bandung.

“Yayat Cahdiyat adalah pelaku bom panci Jalan Pandawa selain anggota JAD dan ada hubungan dengan Bahrum Naim dan ISIS. Sebelumnya tersangka tersebut salah satu dari delapan terpidana terorisme di Cikampek Jawa Barat, Medan Sumatera Utara dan Poso Sulawesi Tengah yang sempat dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan Tangerang pada 17 Mei 2013,” ujar Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Boy Rafli dalam percakapan dengan SP, Selasa (28/2/2017).

Menurut Boy, sejumlah pelaku lainnya dalam insiden bom panci Bandung masih dalam pengejaran. Mereka disinyalir ikut merancang atau terlibat pengendalian aksi teeroris di Jalan Pandawa, Senin pagi jam 08.10 WIB. Sebelum tewas, Yayat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih, Jalan Moch. Toha, Bandung.

Sebagaimana diketahui, Yayat Cahdiyat terlibat berbagai aksi terorisme dan namanya pertama kali mencuat dalam kasus tindak pidana perampokan bermotif terorisme pada Maret 2010. Kala itu, Yayat berkomplot dengan tiga rekannya, yakni Agus Marshal, Bebas Iriana, dan Enjang Sumantri terlibat perampokan pemilik mobil jenis Toyota Avanza di depan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Kali Asin, Cikampek, Jawa Barat.

Selain Yayat pernah muncul dalam putusan Mahkamah Agung pada 8 Oktober 2012 dalam kasus terorisme. Putusan tersebut berkaitan dengan perintah penunjukan Pengadilan Negeri Jakarta Barat untuk memeriksa perkara pidana atas nama terdakwa Agus Marshal alias Metal dan kawan-kawannya yang dalam penyidikan Densus 88 terkait teroris pelatihan militer di Pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Yayat Cahdiyat juga pernah disebutkan sebagai salah satu dari delapan terpidana terorisme yang dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan Tangerang pada 17 Mei 2013. Delapan terpidana terorisme itu terdiri dari kelompok Cikampek, Medan, dan Poso.

Yayat Cahdiyat yang lahir di Purwakarta pada 24 Juni 1975 yang memiliki nama samaran Dani alias Abu Salam pernah divonis penjara karena mengikuti pelatihan militer di Aceh pada 2012 hingga 2015. Yayat tercatat sebagai warga Kampung Cukanggenteng RT 3 RW 1, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.

Berdasarkan penelusuran Polri, Yayat merupakan anggota kelompok teroris Jamaah Anshar Daulah (JAD) Bandung pimpinan Ujang Kusnanang alias Rian alias Ujang Pincang, mantan narapidana kasus terorisme yang menyembunyikan buronan kasus pelatihan paramiliter Aceh.

Sedangkan Bahrum Naim dalam aksi serangan terorisnya antara lain mengendalikan bom di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Kemudian Bahrum di Pengadilan Negeri Surakarta, Jawa Tengah, 9 Juni 2011, majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara 2 tahun 6 bulan bagi Naim karena melanggar Undang- Undang Nomor 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api dan Bahan Peledak.

Seusai menjalani hukuman, ia bebas sekitar Juni 2012. Menurut catatan Satuan Tugas Khusus Antiteror Polri, Naim diduga telah melakukan baiat atau menobatkan diri sebagai bagian dari Negara Islam di Irak dan Suriah pada 2014. Di tahun yang sama, Naim menuju Suriah.

Dugaan keterlibatan Naim dalam berbagai rencana aksi teror di Tanah Air telah dideteksi pada Agustus 2015. Naim diduga menjadi otak rencana serangan teror di sejumlah lokasi di Solo, Jawa Tengah, pada perayaan kemerdekaan RI.

Dalam operasi penangkapan terduga teroris sepanjang Agustus 2015 di Solo, Satgasus Antiteror Polri menangkap empat orang. Mereka ialah Ibadurrahman alias Ali Robani alias Ibad, Yus Karman, Giyanto alias Gento, dan Sayfudin al-Fahmi alias Udin.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan, jaringan JAD terus diantau. Mengingat aksi teror kelompok itu dilakukan sebagai upaya Naim untuk mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin ISIS di wilayah Asia Tenggara.

Sumber: JPNN.com

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top