Ekonomi

Petani Cabai Sulteng Perlu Bantuan Modal

Petani cabai (FOTO ANTARA)

PALU, kabarSelebes.com – Petani cabai di Sulawesi Tengah memerlukan suntikan modal untuk mengembangkan komoditas cabai dalam jumlah yang besar.

Kepala Bidang Perdagangan dan Perlinudngan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulteng Zainuddin Abdul Kadir, di Palu, Selasa, mengatakan biaya untuk pengembangan tanaman cabai cukup besar.

Padahal kemampuan dana dari petani sendiri tidak memadai, sehingga mereka menanam cabai secara terbatas disesuaikan dengan kemampuan modal yang dimiliki.

“Ini salah satu kendala yang dihadapi petani di sini dalam mengembangkan komoditas pangan tersebut dalam jumlah yang besar,” kata dia lagi.

Soal pemasaran, tidak ada hambatan karena kebutuhan masyarakat di Sulteng cukup tinggi.

Selain itu, hasil panen petani selama ini banyak diantarpulaukan ke sejumlah daerah di antaranya ke Kaltim, Pulau Jawa, dan Manado.

“Pokoknya yang menjadi kendala utama yakni kekurangan modal,” kata dia.

Berdasarkan hasil kunjungan ke Jember, petani cabai di daerah itu mendapatkan bantuan kredit usaha rakyat (KUR) dari perbankan setempat.

Karena itu, petani cabai di Jember tidak kesulitan modal dalam mengembangkan komoditas pangan yang banyak dibutuhkan tersebut dalam jumlah besar.

Menurut dia, biaya untuk budi daya satu hektare cabai dibutuhkan dana mencapai Rp100 juta.

Dana itu cukup besar, sehingga hanya petani yang kuat modal bisa mengembangkan tanaman cabai seluas tersebut.

Selain itu, kata dia, kelompok petani di daerah itu juga menjalin kerja sama dengan perusahaan makanan yakni Indofood.

Seluruh hasil panen petani ditampung oleh perusahaan itu, sehingga petani terus bergairah menanam cabai dalam jumlah besar.

Khusus petani di Sulteng, katanya lagi, masih sulit untuk mengembangkan tanaman itu dalam jumlah besar karena kekurangan modal.

Karena itu, Zainuddin beberapa waktu lalu ketika menghadiri rapat Tim Pengemdalian Inflansi Daerah (TPID) setempat, mengusulkan kepada Bank Indonesia untuk membantu petani dengan menyalurkan KUR.

Harga cabai di pasaran Kota Palu sejak awal Januari 2017 mengalami kenaikan cukup tajam mencapai Rp100 ribu/kg. Namun memasuki minggu pertama Februari 2017 ini, harga cabai mulai turun dan kini pada kisaran Rp80 ribu/kg.

Menurut dia, harga itu merupakan tertinggi selama ini di Sulteng. Pada pasar tradisonal Palu, stok cabai cukup memadai, tetapi harga tetap tinggi.

Sejumlah petani mengaku harga cabai masih tinggi karena harga di tingkat produsen naik akibat produksi menurun, menyusul dampak dari curah hujan yang cukup tinggi di sentra-sentra produksi.

Dua daerah di Sulteng yang merupakan sentra produksi hortikultura adalah Kabupaten Poso dan Sigi.

Jika produksi petani turun, maka pasokan cabai ke pasar-pasar tradisional di Kota Palu dipastikan berkurang, dan dapat memicu harga naik seperti yang terjadi sekarang ini.

Sumber : ANTARASULTENG.com

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top