Lifestyle

Cerita Kakek Huang Setelah Bangkit dari Kematian Selama 7 Jam

Kakek berusia 76 tahun mantan tabib lokal yang mengalami mati suri selama 7 jam. (Erabaru)

KabarSelebes.com – Seorang kakek Sichuan berusia lebih dari 70 tahun ‘meninggal dunia’ karena menderita penyakit kanker akut. Setelah dimandikan, jenasah oleh keluarganya dimasukkan ke dalam peti jenasah.

Namun di luar dugaan bahwa kakek tersebut tiba-tiba bangun dari dalam peti setelah sekian jam berlalu, sehingga mengejutkan pendeta Tao yang didatangkan dan sedang menjalankan upacara sembahyang.

Hal yang lebih mengherankan adalah sang kakek kemudian menceritakan pengalamannya tentang roh dirinya yang keluar tubuh.

“Membuat orang yang mendengar jadi merinding!” kata pendeta Tao yang sudah banyak pengalaman dalam urusan sembahyang untuk orang yang meninggal.

Media ‘The Paper’ menyebutkan, kakek yang merupakan warga Junlian County, kota Yibin, Sichuan itu bernama Huang Wen-guang, kini berusia 76 tahun.

Ia adalah seorang penderita penyakit kanker tenggorokan dan belakangan ini kondisinya memburuk. Sudah tidak bisa makan, minum dan hanya bisa berbaring di ranjang selama hampir setengah bulan. Ia sudah putus nafas pada 8 Januari 2017 lalu sehingga keluarga percaya bahya sang kakek sudah meninggal dunia. Setelah dimandikan, mengganti pakaian baru lalu dimasukkan ke dalam peti jenasah.

Sebagaimana yang diceritakan keluarga kepada media bahwa kedua anggota badan sang kakek sudah kaku, badannya dingin, titik (akupuntur) renzhong juga terlihat sudah menyusut dan tidak ada lagi nafas.

Oleh karena itu ia kemudian dinyatakan meninggal dunia. Sekitar pukul 10 siang itu jenasahnya dimasukkan ke dalam peti lalu memanggil pendeta datang untuk melakukan sembahyang.

Tetangga pun berdatangan setelah mendengar berita duka dan memberikan bantuan seperlunya. Teman dan famili datang dengan membawa bahan-bahan untuk sembahyang termasuk karangan bunga sebagai pernyataan belasungkawa.

Tanpa diduga 8 jam kemudian, seorang pendeta yang bertugas membawa dupa sembahyang menemukan tutup peti jenasah tidak dalam kondisi rapat atau bercelah, lalu timbul inisiatif untuk menggesernya, tetapi usahanya itu tidak berhasil.

Karena itu ia lalu mencoba untuk mengangkat tutup tersebut dengan maksud ingin melihat barangkali ada sesuatu yang mengganjal sehingga sulit ditutup. Setelah tutupnya terkuak agak lebar, ia melihat sebelah tangan kakek sedang terangkat dan matanya sedang melototi pendeta itu. Saking terkejutnya, ia sampai menjerit dan langsung lari menjauh.

Melihat keadaan itu, para sanak saudara lalu berlarian untuk membuka tutup peti ingin mengetahui apa yang terjadi. Kakek kemudian bangun sendiri dan duduk dalam peti jenasah sampai kira-kira setengah jam kemudian baru keluar.

Saat itu juga, sang kakek minta diantar untuk berjalan-jalan di luar rumah. Ketika ia melihat babi yang dipersiapkan oleh putrinya itu untuk persembahan sembahyangan, ia pun berulang kali mengatakan, “Baik. baik !” sambil mengulurkan tangan mengelus kepala babi itu.

Ketika famili dan tetangga bertanya tentang apakah ia mengetahui jika dirinya sudah meninggal dunia, ia tidak menjawab tetapi justru menceritakan pengalamannya yang berada di jalan Barat Kecil, Junlian County untuk mengobati penyakit seorang bermarga Huang di sana.

Awalnya ia hanya menerima uang 8 Renminbi sebagai imbalan atas pemeriksaan denyut nadi, namun setelah selasai memberikan obat, ia diberi lagi uang 80 Renminbi oleh mereka. Setelah itu ia berpamit pulang.

Ternyata kakek tersebut sudah lama dikenal sebagai tabib di daerahnya. Ia juga menyimpan sejumlah buku-buku catatan tentang obat-obat tradisional Tiongkok. Anggota keluarganya pun sedikit banyak tahu cara mengobati penyakit ringan meskipun tidak ahli. Itulah sebabnya kakek tersebut bercerita bahwa rohnya keluar tubuh untuk mengobati orang lain yang membutuhkan.

Namun, kakek tersebut rupanya sudah merasakan bahwa ia bakal meninggal dunia lagi. Seperti yang disampaikan oleh anggota keluarga ketika sang kakek baru siuman dari mati surinya, ia langsung bertanya, “Upacara mengelilingi peti jenasah (upacara adat sebelum jenasah dikubur) mengapa tidak diteruskan? Baiknya diteruskan saja !”.

Pada 9 Januari itu, putrinya menanyakan apakah ia bersedia minum obat, kakek mengatakan ia mau. Dan di hari itu juga ia bisa duduk di bangku meja makan untuk menyantap sendiri makanan dan mengambil teh minumannya. Tetapi selewat hari itu, sang kakek kembali tak mau berbicara sampai ajalnya benar-benar tiba pada 11 Januari lalu.

Sumber : Erabaru.net

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top