Parigi Moutong

Begini Penjelasan Kejaksaan Terkait Belum Ditahannya Sekda Parimo

Tampak perwakilan masa aksi saat menyampaikan maksudnya kepada pihak Kejari Parigi. (FOTO : Roy Lasakka/KabarSelebes.com)

PARIGI MOUTONG, KabarSelebes.com – Menurut penjelasan Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Parigi, Reza Hidayat bersama Eko selaku Kasi Intel dan Agus Siswandi selaku Kasi Pidum bahwa belum dilakukan penahanan terhadap Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Ekka Pontoh karena ditemukannya novum baru dalam perkara tersebut.

Bahkan, Kejaksaan juga hingga kini belum menerima salinan putusan Ekka Pontoh dari Mahkama Agung (MA) Nomor : 2665 K/PID.SUS/2015.

Novum baru yang dimaksud kata dia, berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan pihak Dirkrimsus Polda Sulteng ditemukan sejumlah alat bukti baru yang tidak pernah ditunjukan saat persidangan.

Contohnya, berupa pemalsuan tandatangan yang dilakukan oleh seseorang yang terlibat dalam pemalsuan dokumen perencanaan pembangunan dermaga fiktif tersebut.

“Terkait pemalsuan tandatangan tersebut, pihak Polda Sulteng telah menentukan tersangkanya dan sudah mengirimkan SPDP-nya kepada Kejaksaan Tinggi (Kejati). Sehingga, hal itu yang menjadi novum baru dan peninjauan kembali atas kasus Ekka Pontoh,” jelasnya.

Menurutnya, dalam novum baru dan peninjauan kembali tidak menghalangi untuk melakukan penahanan. Hanya saja, untuk melakukan penahanan, Kejari Parigi harus berhati-hati.

Pasalnya, jika nantinya dalam novum baru terbukti perkaranya bebas sedangkan yang bersangkutan telah ditahan, maka pihaknya yang akan disalahkan karena telah mengeksekusi orang tak bersalah.

Menurutnya, dalam kasus Ekka Pontoh benar telah terbukti korupsi. Namun, jika dalam kasus tersebut terbukti Incraht maka pihaknya akan segera berkoordinasi dan meminta petunjuk selanjutnya kepada Kejati.

“Aksi demo tersebut akan ditindaklanjuti dengan melayangkan surat kepada pihak MA untuk mempertanyakan salinan putusan Ekka Pontoh yang hingga saat ini belum diterima oleh Kejari Parigi. Dalam kasus ini, kami tidak pernah merasa terintimidasi karena takut. Yang harus dipahami oleh masyarakat, di Kejari Parigi tidak hanya menangani satu atau dua kasus saja. Melainkan menangani puluhan kasus. Sedangkan tenaga Jaksa Pidsus yang tersedia hanya ada dua orang saja. Sehingga, kami mengakui kalau penangan khusus Ekka Pontoh terkesan lambat,” ujarnya. (Roy Lasakka)

 

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top