News

YPIM Ajarkan Ilmu Toleransi di Bangku Sekolah

Yayasan Pendidikan Iskandar Muda (YPIM) di Jalan Tengku Amir Hamzah, Pekan I, Medan Sunggal, Rabu (11/1/2017). (Tribun Medan)

MEDAN, KabarSelebes.com – Tidak banyak sekolah yang memiliki konsep pembauran antar agama di sekolah.
Seperti Yayasan Pendidikan Iskandar Muda (YPIM) di Jalan Tengku Amir Hamzah, Pekan I, Medan Sunggal. Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) YPIM ini memiliki toleransi, tenggang rasa hingga pembauran yang ditanamkan oleh pihak sekolah.

Lembaga pendidikan ini memiliki ciri menyemaikan nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap kebhinnekaan dengan berpijak pada pendidikan inklusif.

Satu contoh nyata terfasilitasinya keragaman itu adalah tersedianya rumah ibadah semua agama yang diakui pemerintah di dekat kompleks sekolah.

Siswa sekolah ini memiliki latar belakang yang sangat beragam dan keragaman itu difasilitasi dengan baik oleh manajemen sekolah.
Baca: Terungkap Sudah Otak Pelaku Pemerkosa SR Gadis Belia Berusia 15 Tahun

Ada bangunan rumah ibadah mesjid, gereja, vihara hingga pura yang baru diresmikan oleh Mantan ketua Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dan dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.

Bangunan rumah ibadah tersebut berdampingan, satu bangunan rumah ibadah satu dengan rumah ibadah lainnya.

Tidak lelah merawat dan menumbuhkan toleran dalam kesadaran akan realita yang majemuk, Perguruan Sultan Iskandar Muda Medan baru saja meresmikan bangunan rumah ibadah pura berserta bangunan 4 lantai sekolah dengan 41 kelas pada Sabtu lalu (7/1/2017).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, yayasan pendidikan yang menerima MAARIF Award 2014 ini mempunyai ciri khas, yaitu nilai-nilai dan penghargaan dengan berpijak pada pendidikan inklusif.

“Keragaman latar belakang siswanya sangat kental. Sekolah ini mencerminkan miniatur dari Indonesia,” katanya saat memberikan kata Sambutan pada peresmian Pura dan bangunan sekolah 4 lantai YPIM tersebut.

Pihak sekolah memfasilitasi keragaman agama untuk siswanya dengan bangunan ibadah masing-masing agama yang dibangun berdampingan di komplek sekolah. “Toleransi dan kerukunan merupakan dua hal tak terpisahkan dari budaya gotong royong,” ujar Muhadjir.

Mendikbud juga mengapresiasi prakarsa Sofyan Tan selaku Pembina Yayasan di YPIM dengan merintis dan membesarkan lembaga pendidikan yang tidak mudah.

Apalagi, katanya, sekolah yang dibangun atas dasar budaya gotong royong dan merangkul kemajemukan.

“Membangun sekolah dari dana patungan, ini luar biasa. Sangat pantas mendapat penghargaan seperti MAARIF Award,” jelas Muhadjir.

Ahmad Syafii Maarif, pendiri Maarif Institute yang didaulat untuk meresmikan bangunan gedung sekolah baru dan rumah ibadah pura menuturkan toleran itu adalah tunas peradaban. Intoleransi simbol kebiadaban. Toleransi inti keberadaban.

“Toleransi itu penting diajarkan sedari dini di bangku sekolah,” katanya.(*)

 

© Tribun Medan

Comments

comments

To Top