Hukum

Dianiaya Polisi, Keluarga Guru dari Tada Keberatan

Masiolu, ayah Mustabir yang diduga dianiaya polisi.(Foto: Abdee/KabarSelebes.com)

PALU, KabarSelebes.com – Nasib apes menimpa seorang guru dari Desa Tada Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong. Pria bernama Mustabir ini mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh sejumlah oknum polisi.

Penganiayaan itu bermula saat Mustabir menemukan handphone di sebuah motor yang terparkir di Mall Tatura Palu Kamis 29 Desember 2016. Saat itu Mustabir memarkirkan motornya tidak jauh dari sebuah kendaraan Mio Soul. Ternyata, Mustabir menemukan sebuah handphone jenis Iphone tertinggal di bagasi motor.

“Saat itu Mustabir mengambil HP itu dan menunggu pemilik motor. Karena lama maka anak saya itu masuk ke dalam mal untuk mencari tahu pemiliknya. Setelah kembali ke parkiran ternyata motor tadi sudah pergi terpaksa anak saya bawa HP itu,” cerita Masiolu (60) ayah Mustabir saat memberi keterangan pers di sekretariat AJI Kota Palu di Jalan Rajawali Palu.

Ternyata setelah itu, pemilik handphone bersuara wanita menghubunginya menanyakan siapa yang menemukan handphone tersebut. Menurut Masiolu, anaknya Mustabir memberitahukan kepada pemilik HP untuk mengambil barang miliknya yang sedang berada di tangannya.

“Dia tanya, kamu dimana. Anak saya jawab di Jalan Zebra. Dia minta alamat lengkap karena pemilik HP itu mau ke situ,” kata Masiolu.

Setelah ditunggu tidak muncul kata Masiolu, pada Hari Selasa 3 Januari 2017 pemilik iphone itu menelpon lagi dan menawarkan uang Rp500 ribu agar HP miliknya dikembalikan.

“Anak saya bilang tidak perlu kasih uang, ambil saja HPnya. Tapi yang menelpon bukan lagi suara perempuan, tapi suara laki-laki. Karena mendesak terus untuk memberi uang maka anak saya janjian ketemu di anjungan Talise,” lanjut Masiolu.

Ternyata di anjungan Talise itulah pemilik HP bersama polisi sudah menunggu. Saat bertemu dan menunjukkan HP Mustabir langsung disergap. Saat itu kata Masiolu, anaknya diikat dan ditutup matanya dengan menggunakan lakban dan dibawa ke Mapolres Palu.

“Saat di kantor Polres Palu itu anak saya dianiaya. Dipukul di badan dan di kaki. Kemungkinan anak saya itu akan lumpuh karena sudah tidak bisa berdiri,” kata Masiolu.

Atas penganiayaan itu, pihak keluarga didampingi tim kuasa hukum melaporkannya ke Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Sulteng.

“Yang kami sayangnya Propam juga lamban melakukan visum terhadap korban serta lamban memproses pelaku penganiayaan itu,” kata Andi Akbar, kuasa hukum keluarga.

Sementara itu, pihak Polres Palu dalam laporan polisi yang diterima KabarSelebes.com menyebutkan bahwa tersangka Mustabir disangkakan melakukan tindak pidana pencurian. (Abdee)

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top