Lipsus

Teror di Indonesia Berlanjut, Habis Santoso Terbit Bahrun Naim

Santoso dan Bahrun Naim

KABAR SELEBES – Sebelum pertengahan 2016, nama Santoso bisa dibilang angker. Bagaimana tidak, banyak kasus teror di Indonesia, kerap dikaitkan dengan namanya. Bukan hanya aksi teror di Sulawesi Tengah, tempatnya bermarkas, tapi juga serangan di sejumlah daerah yang kerap dihubung-hubungkan dengan pemilik nama alias Abu Wardah ini.

Santoso bersama puluhan pengikutnya memilih mengasingkan diri di belantara Gunung Biru, Poso. Namun meski hidup di tengah rimba, toh Santoso tetap dianggap sebagai ancaman serius.

Pada 2012, ia disebut membunuh dua anggota polisi secara sadis. Sejak saat itu pula namanya masuk dalam daftar buron. Alih-alih tertangkap, setahun setelahnya, Santoso malah muncul dalam sebuah rekaman video yang diunggah di Youtube.

Dalam video tersebut, Ia mengumumkan akan terus memerangi polisi terutama Detaseman Khusus 88 Antiteror. Ia menyebut satuan elite kepolisian itu sebagai musuh dan setan yang sesungguhnya. Saat itu ia juga mengumumkan pendirian sekaligus memimpin Mujahidin Indonesia Timur.

Pada 2014, Santoso mengumumkan diri sebagai pendukung dari Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS). Ia menyatakan berbaiat pada pimpinan tertinggi ISIS, Abu Bakar Al Baghdadi.

Sejak itu pula kepolisian kerap menuding pria kelahiran 21 Agustus 1976 ini menjadi dalang teror atau terkait dengan jaringan kelompok radikal.

Operasi penangkapan pun dirancang Polda Sulteng. Namun selalu kandas. Markas Besar Polri yang turun tangan pun seakan tak berdaya. Sulitnya medan hutan Poso jadi alasan.

TNI kemudian dilibatkan untuk menangkap bekas pedagang perabot dapur ini. Namun Santoso yang turut membawa istrinya ke hutan tak juga tertangkap.

Awal April 2015, TNI menggelar latihan tempur Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) di Kabupaten Parigi Moutung, Sulteng. Latihan tempur tersebut menggunakan peluru tajam dengan melibatkan 3.222 prajurit.

Juru bicara TNI Mayor Jenderal Fuad Basya saat itu hanya menyebut bahwa penggunaan peluru tajam diharapkan bisa menimbulkan efek jera bagi Santoso CS.

Sementara polisi mengklaim tak ada kaitan antara latihan tempur itu dengan perburuan Santoso. Pasalnya Parigi Moutung dan Poso berjarak sekitar 120 kilometer.

Namun pada hari yang sama saat hutan Gunung Biru dibombardir, terjadi kontak tembak antara polisi dengan Daeng Koro, orang penting dalam kelompok Santoso di area kebun warga. Daeng tewas tertembus peluru polisi.

Basri alias Bagong saat digiring aparat Satgas Tinombala ke RS Bhayangkara Palu Rabu (14/9/2016).(Foto: Abdee/kabarSelebes.com)

Duet Berbahaya
Daeng Koro bersama Santoso disebut sebagai duet teroris berbahaya. Daeng pernah berlatih militer di Mindanao, Philipina. Bersama Santoso, Daeng adalah instruktur tempur anggota MIT.

Daeng Koro meregang nyawa, tapi tidak dengan Santoso. Ia masih terus melanjutkan perlawanan dari tengah hutan.

Perburuan berlanjut. Polisi kembali merangkul TNI untuk mengejar Santoso. Operasi pengejaran kali ini berskala nasional dan diberi nama sandi Camar Maleo. Operasi Camar Maleo I hingga IV digelar sepanjang 2015. Namun tak juga bisa menangkap Santoso.

Januari 2016, nama sandi operasi pengejaran diganti menjadi Operasi Tinombala. Berbeda dengan Camar Maleo, Tinombala adalah operasi bersifat kedaerahan. Saat itu, seorang pria tertembak mati dalam operasi ini dan diyakni sebagai Santoso. Namun ternyata jenazah itu bukan Santoso.

Di tengah pelaksanaan Operasi Tinombala, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan Santoso masuk dalam specially designated global terrorist (SDGT).

Mereka yang masuk SDGT akan dibekukan asetnya. AS juga melarang warganya berhubungan dengan orang-orang yang masuk dalam daftar ini dan memberikan mandat bagi penegak hukum untuk menindaknya.

Setelah 2.500 personel TNI/Polri diterjunkan, sebanyak 34 orang anak buah Santoso dibekuk. Juli 2016 adalah masa akhir perlawanan Santoso. Dalam sebuah baku tembak dengan TNI anggota Operasi Tinombala, Santoso tewas tertembak.

Santoso mati, Mujahidin Indonesia Timur tak bubar begitu saja. Tongkat komando dikabarkan beralih ke Basri alias Bagong, orang kepercayaan Santoso. Namun beda beberapa hari, Basri tertangkap.

Saat ini kelompok militan itu dipercaya di bawah pimpinan, Ali Kalora, anggota paling senior MIT sepeninggal Santoso dan Basri.

Bahrun Naim (Foto: Tempo.co)

Bahrun Naim: Perantau Solo di Suriah
Tak ada lagi Santoso, pusat pemberitaan terorisme kini beralih ke Bahrun Naim. Namanya cukup asing di pemberitaan teror sebelum 2016.

Namanya mulai dikenal luas setelah polisi menyebutnya sebagai dalang aksi teror di jantung ibu kota, bom Thamrin, Januari 2016.

Nama lengkapnya Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo alias Abu Rayyan alias Abu Aishah. Masih muda, kelahiran 1983. Dari sejumlah foto yang beredar, sosoknya tak segarang Santoso. Namun pria berkacamata ini disebut tak kalah berbahaya.

Jika Santoso hanya bersumpah setia pada ISIS, maka Bahrun langsung bergabung dengan organisasi teror terbesar itu di Suriah. Dari negara konflik itu, Bahrun dipercaya mengendalikan jaringan teror di Indonesia dengan cara merekrut, melatih dan merencanakan serangan.

Di dunia teror, ia bukan benar-benar baru. Tahun 2010, ia dipenjara dua tahun atas kepemilikan ratusan butir peluru milik salah seorang anggota Jemaah Islamiyah. Kasus itu tak cukup menyita perhatian media hingga nama pria kelahiran Solo itu juga tak banyak muncul.

Nama Bahrun juga beberapa kali disebut sebagai nama akun blog dan media sosial yang kerap mengunggah materi radikal. Namun saat itu namanya belum menjadi pusat perhatian.

Hingga pada Januari 2016 saat sejumlah orang melepaskan tembakan dan membawa bom bunuh diri di kawasan Sarinah, Thamrin, namanya mulai melambung. Bahrun dituding polisi sebagai dalang insiden yang menewaskan delapan orang itu. Ia diyakini menjadi penyuplai dana untuk para pelaku.

Setelah kejadian itu, nama Bahrun Naim selalu disebut sebagai otak aksi teror. Terbaru saat polisi menyebut Bahrun adalah perekrut, instruktur sekaligus penyuplai dana bagi jaringan teroris Bekasi yang berencana meledakan bom bunuh diri di Istana.

Semua dilakukan Bahrun dari Suriah. Menggunakan teknologi mobile, Bahrun merekrut orang, mengajari cara membuat bom dan mengirimkan duit untuk operasi teror. Meski namanya selalu disebut, namun polisi seperti tak tahu harus berbuat apa terhadapnya karena keberadaanya di luar negeri.

Tim Identifikasi membawa jenazah terduga teroris anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) untuk diidentivikasi di kamar Ruang Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Palu, Jumat, (11/11/2016). Jenazah yang belum diketahui indentitasnya tersebut tewas tertembak setelah kontak senjata dengan aparat yang tergabung Satuan Operasi Tinombala di Dusun Kuala Airteh, Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Kamis (10/11/2016). (Faiz Sengka/KabarSelebes.com)

Sosok Sentral Jaringan Teror

Dalam sejarah penindakan terorisme di Indonesia, penegak hukum selama ini selalu menyebut dan memburu tokoh sentral yang dinilai paling bertanggung jawab. Usai menangkapi orang-orang yang dinilai berperan besar dalam bom Bali 2002, polisi menyebut dua orang yang paling berbahaya dalam jarianan teroris saat itu, yakni Azahari Husin dan Noordin Mohammed Top.

Keduanya warga negara Malaysia yang punya keahlian khusus. Azahari pakar pembuat bom. Gelar doktor kerap ditambahkan di depan namanya. Sementera Noordin dikenal sebagai perekrut ulung. Sejumlah pengantin atau pembawa bom bunuh diri pernah direkrutnya untuk beraksi dengan iming-iming bidadari surga kelak.

Selama beberapa tahun perburuan kepada keduanya dilakukan. Selama itu pula aksi teror terus terjadi. Usai bom Bali I Oktober 2002, meski dalam buruan petugas, Azahari dan Noordin meledakan bom di Hotel JW Marriot Jakarta 2003, bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta tahun 2004 dan bom Bali II Oktober 2005.

Keduanya sempat beberapa lolos dalam sejumlah penyergapan. Dalam pelarian, mereka kerap menyamar dengan mengubah nama dan penampilan. Noordin bahkan sampai menikahi sejumlah wanita lokal.

Dr Azahari meregang nyawa lebih dulu dalam penyergapan di Kota Batu, Malang Jawa Timur November 2005 atau sebulan setelah bom Bali II.

Noordin disergap pada hari yang sama di tempat berbeda, namun lolos. Ia baru ditangkap Tim Detaseman Khusus 88 Antiteror empat tahun setelah Azahari tewas. Ia ditembak mati di Solo, Jawa Tengah, 17 September 2009.

Dua tahun sebelum tewas, pria yang juga buronan Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat ini sempat melancarkan teror bom di Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Selain Azahari, Noordin, Santoso dan Bahrun Naim, sosok sentral yang kerap disebut jadi dalang teror adalah Aman Abdurrahman. Namun ia bukan dalam status buronan. Guru ngaji ini kini mendekam di penjara Pulau Nusakambangan, Cilacap.

Ia dipenjara karena terlibat dalam bom Cimanggis, Depok. Meski di dalam penjara, Aman disebut polisi masih bisa menggerakan jaringan teror dan mempengaruhi orang untuk melancarkan aksi serangan yang diklaim sebagai jihad di Indoensia.

Kini nama Azahari, Noordin, Santoso tak ada lagi. Namun ancaman teror belum juga berhenti. Nama Bahrun Naim jadi sosok sentral dan buronan baru.

(sumber: CNN Indonesia)

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top