Sosok

Rudy Lanena, Loper Koran Sekaligus Pencipta Lagu Kaili yang Fenomenal

(Jose Rizal/KabarSelebes.com)

(Jose Rizal/KabarSelebes.com)

Tuvu Samba’a (Hidup Sendiri)
‎O vula, vula nadongga (O bulan, bulan purnama)
Nte tonji bongi nentaya (Dan burung malam melayang)
O vula vula nadongga (O bulan, bulan purnama)
Poroa yaku hi nalentora (Temani aku yang sedang rindu)‎

KABAR SELEBES – Penggalan lagu Kaili yang fenomenal itu adalah satu dari ratusan lagu  yang diciptakan oleh  Rudy Lanena, seorang loper koran yang tinggal di kota tua Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Lagu ini, kali pertama direkam secara manual di Stasion Radio Republik Indonesia (RRI) Kota Palu pada tahun 1984 dan dinyanyikan sangat apik oleh Masriani Sjukri, penyanyi lokal Sulawesi Tengah.

Lagu ini, di ciptakan pada tahun 1983, setahun setelah hujan abu melanda Kota Palu dan hampir semua Kabupaten lainya di Sulteng akibat letusan gunung Colo. Lagu ini mengisahkan kerinduan seorang lelaki kepada kekasih hatinya yang telah pergi. Sungguh sangat sentimentil.

Namun yang lebih sentimentil lagi, ‎di era dimana seniman daerah tak lagi mendapat tempat, di zaman dimana kesenian tak lagi jujur melihat fenomena dan gejala sosial, anak-anak muda tak banyak tahu siapa saja pencipta lagu Kaili di Sulawesi Tengah. Bahkan di sekolah-sekolah formal pun, hampir tidak ada mata pelajaran untuk memperkenalkan budaya dan lagu Kaili tersebut. Alhasil, anak-anak muda semacam kehilangan identitas dan tercerabut dari akar sejarahnya.‎

Rudy Lanena dan Sekilas Proses Kreatifitasnya

Rudy Lanena, lelaki berhati lembut ini lahir di Kota Palu, 29 Desember 1959. Pertemuanya pada kesenian dimulai pada tahun 1975. Waktu itu dia mulai belajar memainkan alat musik gitar akustik. Ia seniman otodidak. Bersama dua sahabatnya, Abd Basyir D Languha (sekarang dosen Untad Palu) dan Ashar D Lahay.

Di usia remaja, Rudy mulai mencipta lagu dan menyanyikanya pada setiap ivent kesenian. Tahun 1980, mulai terbersit dibenaknya mengapa tidak menciptakan sesuatu yang baru, misalnya lagu berbahasa kaili.

“Mengapa tidak menciptakan lagu berbahasa Kaili? Pertanyaan seperti ini terus berkelebat di benak saya. Suatu waktu, dengan nekat untuk pertama kalinya saya menciptakan lagu berbahasa Kaili, judulnya Inoku Tove,” katanya pagi senggang, di Donggala belum lama ini.‎

Dia menuturkan, sebelum memutuskan untuk menjadi pencipta lagu, Rudy Lanena bekerja sebagai loper koran dan majalah nasional di Kota Palu. Pekerjaan menjadi loper koran dia lakoni dari tahun 1972 hingga saat ini, setelah ‘drop out’ dari sekolah,( hanya sampai kelas V Sekolah Dasar). Rudy Lanen, menjalani pekerjaanya sebagai loper bukan hanya di kota Palu, tapi dia juga ekspansi hingga ke Kabupaten Donggala.

“Di Donggala, ada kakak yang mengajar di SMP. Kadang-kadang saya juga pulang ke Palu. Di Donggala saya bekerja mengembangkan langganan koran,” kenangnya.

“Di mana tanah di pijak, di situ bumi di junjung”. Petuah ini selalu dipegang erat oleh Rudy. Katanya, di manapun dia berada, di sanalah dia berkarya. Suatu ketika, tahun 1982 ada lomba vokal group antar sekolah di Donggala. Waktu itu, Abdi Negara Nurddin, gitaris band Slank yang akrab di sapa Abdee Slank itu, masih duduk di kelas II SMP. Abdee akan mengikuti lomba tersebut dan akan membawakan lagu ciptaan Rudy Lanena dengan judul Kaledo. Tapi sayang, lagu itu batal di nyanyikan. Pertemuan itu adalah pertemuannya pertama kali sebelum Abdee hijrah ke Jakarta dan menjadi musisi ternama.

Mengejar Impian

‎Demi untuk mengembangkan lagu daerah Kaili, pada tahun 1984, bersama beberapa sahabatnya, Nasir MBA, Sumarno Iskandar, Nike Polamis, Rudy Lanena membuka Bina Vokalia semacam ajang pencarian bakat di RRI Palu. Program ini digelar setiap akhir pekan dan dibuka untuk umum. ‎Setiap Sabtu sore para penyanyi yang berpartisipasi menyanyikan lagu-lagu daerah di Bina Vokalia. Baik umum maupun anak-anak sekolah bisa tampil di acara itu. Waktu itu yang sering tampil menyanyi adalah Masriani Sjukri dan Ifan Naggaring.

“Di sanalah karya-karya saya banyak tercipta,” kenangnya lagi.

‎Bina Vokalia dari waktu ke waktu semakin digemari. Akhirnya, pimpinan RRI Palu mendukung sepenuhnya program tersebut. Bina Vokalia melahirkan album pertamanya dengan judul “Inoku Tove”, berisiskan sepuluh lagu yang direkam secara manual oleh RRI Palu yang disponsori toko Palinda.

Di tahun 1992, lahir album kedua dengan judul “Nanjoso Rara” dan masih direkam di RRI Palu. Nanti pada album ketiganya “Ulimo Pakatantu”, Rudy Lanena memberanikan diri memproduksinya sendiri. Dengan berbekal tabungan seadanya, tahun 1994 ia memboyong Masriani Sjukri berangkat ke Surabaya untuk rekaman di Nirwana Record. Beberapa lagunya juga direkam di Jonson Record Makassar. Dan selebihnya di rekam di Kota Palu.

Saat ini, album lagu ciptaanya sebanyak 18 album terbagi 7 album direkam dalam bentuk kaset tipe recorder dan 11 album direkam dalam bentuk VCD. Dua lagu berbahasa Indonesia  di nyanyikan oleh Isnawati “Cinta Separuh Jiwa” dan “Cinta Berduri” dinyanyikan oleh Ayuni KDI.

Berkarya Dengan Cinta

Rudy Lanena mengatakan, seluruh hasil karyanya dilahirkan karena rasa cinta. Cintalah yang memberikan energi bagi dirinya untuk mencipta. Cinta pula yang mendorong dirinya berani mempersunting pujaan hatinya, Hj Rosita T Salim. Dari pernikahanya, dia dikaruniai tiga orang anak. Rudy Lanena menetap di Donggala, dan terus menulis lagu. Pekerjaanya sebagai loper koran masih setia ia tekuni. Baginya, menjadi loper koran dan menulis lagu adalah cintanya yang tulus kepada Tanah Kaili, kepada Indonesia.‎

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top