Sosok

Irwan Lahace, Anak Petani yang Sukses Berkarir di Birokrasi

Drs.Irwan Lahace, MSi (dok pribadi)

Drs.Irwan Lahace, MSi (dok pribadi)

KABAR SELEBES – Namanya Irwan Lahace. Anak bungsu dari empat bersaudara ini, lahir di sebuah Kampung kecil yang tenang, tepatnya di Kampung Masaingi, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah 1961 silam. Sebagai anak petani, masa-masa kecilnya dihabiskan di kebun menemani sang ayah. Tapi jangan salah, anak petani yang konon dikenal ‘bandel’ ini, meski masa kecilnya penuh kekurangan, tapi ia sangat rajin dan tekun belajar walau hanya diterangi lampu tempel.

Berkat ketekunanya belajar, Irwan sukses dalam soal pendidikan, baik SD, SMP, SMA, S1, hingga S2. Selain itu, si ‘Anak Petani’ ini juga luwes dalam bergaul. Memiliki jaringan yang luas, serta buah pemikiran yang konperenship untuk memajukan Sulawesi Tengah. Tak salah jika dia dipercaya oleh Gubernur Sulteng, Longki Djanggola sebagai kepala Badan Perpustaakaan, Arsip dan Dokumentasi Daerah (BPADD). Badan ini berfungsi untuk mencerdaskan anak bangsa.

Kepada KabarSelebes.com, ayah tiga anak dan dua cucu tersebut menuturkan perjalanan hidupnya yang penuh keprihatinan. Irwan juga tak malu menceritakan bagaimana ayahnya berjuang untuk menyekolahkanya.

“Waktu itu jangankan biaya sekolah, untuk kebutuhan sehari-hari saja bapak harus bekerja keras untuk membiayayi kami. Bapak itu selain bertani, juga berjualan ikan kelililng,” ucapnya mengenang masa-masa sulit itu belum lama ini.

Setelah tamat SD 1974 dan SMP tahun 1977, Irwan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Depkes Palu pada tahun 1981. Tentu hal itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun semua kesulitan bisa dilaluinya, sehingga dia menyelesaikan pendidik di SPK. Tidak berhenti sampai disitu, Irwan kemudian memutusakan melanjutkan pendidikanya di Sekolah Guru Perawat di Makassar, Sulawesi Selatan. Waktu itu masih dikenal dengan nama Ujung Pandang.

Kekurangan ekonomi yang dirasakanya, perlahan mulai berkurang setelah ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan pangkat Golongan II/a. Sebagai PNS yang baru diangkat, ia ditugaskan di Puskesmas Pembantu Panggalasiang, Kecamatan Damsol, Kabupaten Donggala. Kala itu Dampelas-Sojol masih satu kecamatan.

Tahun 1985, alumnus Akademi Keperawatan (Akper) Padjadjaran Bandung ini kemudian diangkat menjadi guru perawat di SMK Depkes Palu, sekolah di mana dulu dia menimba ilmu. Sebelas tahun kemudian Irwan diangkat menjadi Pembantu Direktur (Pudir) III Akper Depkes Palu. Keberuntungan terus berpihak kepadanya.

Tak berselang lama, Irwan lalu ditunjuk menjadi Pimpro Bidan SPK Palu. Pada tahun yang sama, kemudian Irwan menerima kepercayaan menjadi kepala SPK Depkes Palu, Direktur Akademi Kebidanan Palu, dan Direktur Keperawatan Depkes Palu.

Karir ‘Anak Petani’ ini terus menanjak. Pada tahun 2002 dia dimutasi dari Deperteman Kesehatan Provinsi Sulteng, menjadi Kepala UPTD Balai Pengembangan Kegiatan Belajar Provinsi Sulteng. Tahun 2006, diangkat menjadi kepala Sub Dinas PLS Dikjar Sulteng.

Atas prestasi dan dedikasinya, S2 Magister Administrasi Publik Untad ini kemudian diangakat menjadi Kepala Biro Humas dan Potokoler, Kepala Biro Kesra, dan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Menurut suami dari Hj. Niluh Putu Widiadi ini, dirinya tidak pernah menyangka akan bisa seperti saat ini. Tapi ada satu hal yang dia percaya dan yakini, bahwa Allah akan meninggikan derajat bagi siapa saja hambanya yang berilmu. Serta selalu memberikan kemudahan.

“Kalau dirunut kebelakang, saya ini termasuk anak yang nakal. Bila ada perkelahian antar siswa atau antar kampung, pasti saya salah satu di dalamnya,” ujarnya tertawa.

Tapi Irwan mengatakan, meskipun ‘bandel’ tapi dia mengaku tak pernah berhenti belajar. Suatu hari kata dia, ketika menemani sang ayah menjaga kebun jagung, Irwan membawa serta buku pelajaranya ke kebun karena esok harus mengahadapi ulangan sekolah. Di pondok kebun, ia belajar dengan menggunakan lampu pelita yang terbuat dari kaleng susu dengan sumbu kain bekas. Tapi hal itu tidak membuatnya surut dan patah semangat.

Ditanya apa pesan kepada generasi muda di Sulteng, Irwan menegaskan rajin-rajinlah belajar dan menuntut ilmu, karena buku adalah jendela dunia. Dengan menuntut ilmu, dari yang kita tidak tahu, kemudian menjadi tahu.

“Mari belajar dan membaca apa saja yang dapat membuka wawasan. Berangkat dari lingkungan sekitar, baik itu realitas kehidupan sosial, politik, ekonomi, maupun budaya. Agar kita mampu merubah prilaku kita. Ada sebuah filsafat mengatakan ‘Adanya Aku Karena Dikau’. Allah berfirman, Bacalah (Iqra) dengan menyebut nama Tuhanmu. Dengan ayat ini kita diperintahkan untuk membaca. Dengan membaca semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat,” tukasnya.(*)

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top