Bisnis

Diduga Tipu Pembeli, Pengembang Perumahan Elit Kakatua Town House Dipolisikan

Lokasi perumahan Kakatua Town House di Jalan Kakatua, Palu Selatan, Selasa (11/10/2016). Foto : Odink

Lokasi perumahan Kakatua Town House di Jalan Kakatua, Palu Selatan, Selasa (11/10/2016). Foto : Odink

PALU, KABAR SELEBES – Dua pimpinan PT Mulyatama Asri Palu (Palu), pengembang perumahan elit Kakatua Town House dilaporkan ke penyidik Polda Sulawesi Tengah. Komisaris PT MAP Denny Ferdian Hermawan dan Direktur PT MAP Hengky Horas dilaporkan dalam kasus penipuan oleh konsumen Kakatua Town House, A Arief Buchari.

Arief selaku pembeli rumah Blok A.3 di Kakatua Town House melaporkan kedua pimpinan PT MAP itu pada 31 Agustus 2016 dengan tanda bukti laporan Nomor: TBL/343/VIII/2016/SPKT.

Arief menempuh jalur hukum karena pihak perusahaan tidak memiliki etika baik untuk menyerahkan unit rumah yang telah dibeli sesuai perjanjian atau mengembalikan uang panjar Rp600 juta.

Kasus ini berawal perjanjian jual beli tanah dan bangunan di perumahan Kakatua Town House senilai Rp875 juta, antara Deny Ferdian Hermawan selaku kuasa/wakil PT MAP dan Arief Buchari selaku pembeli pada 8 Desember 2014. Arief selaku pembeli menyerahkan uang muka sebesar Rp303 juta.

Arief kemudian mengajukan permohonan kredit KPR ke Bank Sulteng sebesar Rp500 juta untuk pelunasan rumah. PT MAP merupakan debitur Bank Sulteng. Namun Bank Sulteng hanya menyetujui plafond kredit sebesar Rp300 juta, sehingga Arief akhirnya menambah setoran uang muka ke PT MAP sebesar Rp200 juta secara bertahap sebanyak tiga kali.

“Dalam proses menunggu, pihak pengembang kerap meminta tambahan lagi hingga total dana yang tersetor Rp600 juta,” kata Arief.

Setelah menuggu satu tahun enam bulan, unit rumah yang dijanjikan belum juga rampung sehingga Arief mendesak Denny Ferdian untuk membuat surat pernyataan kesanggupan menyerahkan kunci rumah pada 27 Juli 2016 dan menyelesaikan akad kredit pada 3 Agustus 2016.

Pada 3 Agustus 2016, Arief bersama istri diundang ke Bank Sulteng untuk menandatangani akad kredit, namun pada saat itu pembangunan rumah belum selesai sehingga Arief dan Hengki Horas selaku Direktur PT MAP membuat perjanjian di depan notaris Charles, SH, M.Kn.

Isi perjanjian, PT MAP akan menyelesaikan pembangunan rumah selama sebulan dan bila tidak maka pihak Arief dapat menggunakan dana yang dititipkan PT MAP di Bank Sulteng sebesar Rp150 juta.

“Saya memang sempat menerima kunci yang ternyata palsu sehingga tidak bisa membuka pintu rumah. Belakangan saya mendapat informasi bahwa rumah Blok A3 dalam sengketa di pengadilan antara PT MAP dengan pembeli yang lain,” kata Arief. (Tim)

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top