Kolom Anda

Kultur Luntur Siapa Peduli

Adat Makassar

MENGENAL salah satu desa di pojok Bulukumba yang masa lalunya memiliki nilai budaya yang sangat kuat, “massedi, (bersatu),” adalah kata pengikat di atas nilai kehidupan itu, yang memiliki makna bahwa selalu bersama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Pribahasanya lebih di kenal dengan kalimat. “Berat sama di pikul, ringan sama di jinjing.”

Desa Tibona yang terletak di sebelah Utara Bulukumba Sulawesi Selatan ini yang jaraknya kurang lebih 185 Km dari pusat kota Makassar sungguh memiliki kesuburan alam yang sangat besar, tongkat yang ditancap ke tanah pun jadi tanaman yang tumbuh subur. Bebijian yang dilempar ke sembarangan tempat pun tumbuh menjadi kecambah, hewan ternak pun tak pernah kehabisan lahan parkir makanannya, mata air di desa ini terbilang cukup besar untuk di gunakan sebagai bahan konsumsi.

Dari kekayaan alam desa Tibona maka sungguh masyarakatnya sangatlah jauh dari ancaman kekurangan bahan makanan meski uang tak selalu ada di genggaman.

Konon menurut kesaksian warga setempat, Mubin (73) mengungkapkan bahwa kekayaan sungai pada masa lalu sangat melimpah, dia menggambarkan jumlah Udang air tawar di sungai salah satu Dusun di Desa Tibona itu yang sangat banyak.

“Udang banyak sekali, setiap ada air tergenang di musim kemarau, pasti di situ udang berkumpul, kumis udang kentara di permukaan air,” kenangnya.

“Ikan gabus, ikan lele, belut sungai dulu juga banyak, jadi tidak ada istilah beli lauk,” katanya dengan nada kenangan.

Kekayaan yang melimpah ruah itu seperti termakan zaman, semua saling mendahului mengejar ketertinggalan, bahkan kesuburan Alam yang natural hilang karena perubahan, padi yang dulu tak pernah di beri racun kini sudah di taburi dengan pestisida yang berlebihan dengan dalih sebagai pupuk penyubur tanaman atau racun hama agar hasil melimpah, semua zat kimiawi menjadi harapan para petani padi, petani kebun bahkan peternak dengan harapan agar memiliki hasil yang maksimal dari zat yang digunakan tanpa memikirkan dampak dari penggunaan zat-zat berbahaya itu, lalu mengkonsumsi makanan dari tanaman yang di besarkan oleh zat kimia itu yang kini suda ketahui bahwa zat itu cenderung merusak organ tubuh.

Kini hari ini sudah seharusnyalah mereka sadar akan hal ini agar move on dari pengaruh buruk yang terus menggerogoti.

Tak terbayangkan keindahannya jika masa itu terpelihara meskipun zaman sudah berganti.

Beberapa warga yang pernah merasakan masa itu masih mengenangnya dengan haru, menurut seorang Tokoh masyarakat yang akrab di panggil Bapak Gala (85)

Bercerita panjang mengenai kehidupan mudahnya yang penuh dengan kekayaan alam dan budaya yang kuat serta tali persaudaraan yang terjalin erat.

“Massedi maneng taue ko Engka di jama, (Bugis),” katanya dengan penuh semangat saat bercerita, maknanya, “setiap melakukan aktifitas, selalu bersama-sama.”

Arti kebersamaan orang-orang di desa ini sangat dalam, “satu yang terluka, semuanya turut merasakan.”

Tetapi itu cerita dulu, perubahan tak dapat terhindarkan, pertumbuhan penduduk tak terelakkan, teknologi informasi tak terbendung, budaya asing menjadi konsumsi anak-anak, bahkan orang tua, pengaruh luar berhasil melumpuhkan kebiasaan masyarakat kampung yang berdekatan dengan Kabupaten Sinjai ini.

Meski belum sepenuhnya merubah kondisi sosial budaya masyarakat setempat, tetapi perlahan tapi pasti jika tak ada yang peduli.

Bukti lunturnya kehidupan sosial dan nilai-nilai budaya belakangan ini yang sering terjadi adalah ketidak sepadanan pendapat, kurangnya kerja bakti, dan sudah sangat jarang untuk saling membantu satu sama lain, bahkan sudah tidak asing lagi melihat terjadinya gesekan individual karena berbeda paham.

Kejadian ini tidak menyadarkan warga setempat agar terbangun dari tidur panjangnya untuk menciptakan mimpi dimana alam tetap terjaga meskipun volume penduduk bertambah, tali persaudaraan tetap terjaga meskipun banyak perbedaan, budaya tetap terpelihara meskipun banyak urusan pribadi, silaturahmi tetap terpelihara meskipun terpisah jarak.

Perbincangan ringan dengan salah satu kepala dusun Sumpang Ale pada malam Sabtu, 01 Juli 2016 itu. Jalil menyampaikan kesadarannya terhadap kondisi sosial budaya yang sangat memprihatinkan karena masyarakat yang sudah serba modern, “sangat sulit mengatur kondisi sosial kita karena semua pada sibuk urus diri sendiri,” ungkapnya.

Maksud kepala dusun yang terbilang paruh baya ini adalah kondisi sosial yang melupakan budaya yang sering di terapkan orang-orang dulu yaitu saling tolong- menolong, saling membantu, dan saling sayang, saling asah saling asih serta saling asuh.

Sepintas Desa yang ini terlihat dari luar masih baik-baik saja, namun jika di umpamakan, sesungguhnya jiwanya sakit karena membiarkan penyakit tumbuh, membiarkan budaya asing tumbuh dan mengubur nilai budaya leluhur sehingga dapat di terangkan bahwa mereka bertetangga tapi tidak saling kenal, bersaudara tapi bertengkar, berteman tapi saling mengkhianati, bersama tapi tak sejalan.

Mematikan budaya leluhur siapakatau, sipakalebbi, sipakainge, dan berpura-pura melupakan sejarahnya.

Masyarakat di desa kecil ini bukanlah orang yang menutup diri dari kemajuan zaman, karena melihat kondisi sosial yang semakin meningkat, semakin mengejar informasi namun karna akses yang jauh dari kota maka informasi itu kadangkala tidak jelas. Selain itu juga banyak warga menyekolahkan anak-anaknya di kota, sehingga memberikan arti bahwa mereka tidak ingin diam oleh perubahan tetapi kurangnya informasi yang diterima oleh masyarakat sehingga tidak memahami perlunya memelihara budaya lokal.

Kesadaran anak-anak mudah yang sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan predikat strata-1 pun sampai saat ini masih belum mampu meggodok masyarakat untuk menyadari pentingnya memelihara budaya lokal,

Yang justru mereka yang sudah memiliki pendidikan ikut terjerembab ke dalam situasi itu. Situasi dimana saling cuek, hanya berdasar pada akal masing-masing, zoon politicon tidak lagi di pahami, bahkan pegangan keyakinan jadi sampingan dalam kehidupan hingga pada akhirnya manusia itu seperti menuju pada kejahiliaan, dari mereka tidak sadar bahwa Tuhan yang agung sudah memerintahkan hambanya agar saling mengingatkan dalam kebaikan.

Saat ini situasi Seperti tidak ada yang peduli tapi banyak yang ketika berbicara sangat lantang menyuarakan kepedulian, seperti tidak ada yang tau, tetapi ketika di tanya mengenai situasi sosial, banyak yang mengeluh, jadi kesimpulannya adalah banyak yang pura-pura tuli, pura-pura buta, pura-pura bisu, pura-pura lumpuh, dan pura-pura bodoh dan jika semua diam maka pasti ancaman yang ada akan terjadi.

Penulis : Rusli Habiebie

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top