Nemu Jeda

KAMPUNG BARU: KOTA TUA DI KOTA PALU (2)

Neni Muhidin

Neni Muhidin

JANGANKAN KAMPUNG Baru, di sekitar gang buntu Peneleh saja, di Surabaya sana, tidak banyak yang tahu siapa itu Oemar Said Tjokroaminoto. Kita seperti tidak menemukan alasan untuk kepentingan apa nama itu harus dibicarakan.

Di Kampung Baru, di Palu, yang jauh dari rumah Tjokro di Peneleh Surabaya, nama itu diabadikan menjadi nama jalan, berdekatan dengan jalan Wahid Hasyim, jalan Agus Salim, dan jalan Imam Bonjol: tokoh politik cum agama yang sangat berpengaruh di zamannya.

Pun tiga nama terakhir. Siapa mereka kan tinggal cari di google. Tapi buat apa juga. Kalau tidak sedang mengakses wifi, hanya akan mengurangi jatah paket pulsa data. Jika ada wifi, tentu lebih asyik ngobrol (chat) atau stalking akun-akun idola, pahlawan baru yang terasa lebih dekat, di ujung ibu jari kita. Orang-orang di atas itu, dihapal saja sebagai nama jalan.

Kesadaran ruang kita memang dibangun untuk sekadar menghapal sejarah dan tidak untuk menghayati kisah yang melintasinya. Sialnya, hari ini nama-nama yang tidak dihayati itu bahkan menjadi sekadar akronim pula agar ringkas. Misalnya, Sigma untuk Sisingamangaraja atau Destik, singkatan Dewi Sartika.

Saya ragu, apakah kita tahu siapa Karanjalemba yang namanya diabadikan sebagai nama jalan itu. Ya, kita tahu. Itu perbatasan antara Sigi dan Palu.

Keraguan yang sama saat menyadari Jang Oetama, raja Jawa tak bermahkota itu, telah ikut membentuk nasion yang di kemudian hari bernama Indonesia, membentuk dari rumahnya pemuda-pemuda puber yang baper ideologi politik, datang kost di sana dan memberi mereka pencerahan untuk melawan penjajahan dengan ilmu pengetahuan, dagang, dan siar Islam.

Ya, berdagang. Tjokro tak menyarankan pemuda-pemuda itu jadi ambtenaar Belanda. Mengabdi pada keseharian dalam tumpukan kertas untuk urusan-urusan administrasi belaka. Mungkin kesadaran pada apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW saat menyiarkan Islam. Berdagang.

Di masa setelah Tjokro berpulang, pemuda-pemuda yang berkawan satu dan lainnya itu lalu jadi “orang”. Ada yang jadi presiden, pemimpin partai politik, bahkan gerilyawan. Berlawan satu dengan yang lain.

Kiprah Tjokro terekam dalam banyak jejak perjalanan. Sarikat Islam yang awalnya sarikat dagang dan di kemudian hari menjadi partai politik (PSII) disiarkan Tjokro hingga ke luar Jawa. Mesjid di Pulau Una-Una di Kabupaten Tojo Una-Una adalah bagian dari jejak Tjokro di Sulawesi Tengah, hadir lebih dulu sebelum Hamka membawa Muhammadiyah di tahun sesudahnya dan tentu saja Guru Tua dengan Alkhairaat.

Jejak yang saya yakin telah ikut menjadi jembatan bagi kesadaran baru tentang nasion oleh lokalitas, diaspora Islam Kaili dan Bugis di Mesjid Jami atau yang datang dari negeri jauh di Hadramaut, Yaman. Semuanya bisa kita dapati di sana. Kampung Baru.

Sebuah rumah panggung milik keluarga Ahmad Daeng Sute yang hingga sekarang ada namun tak terawat itu, memang pernah jadi indekost juga. Cucu Ahmad, Siti Ramlah (51 tahun) berkisah, mantan Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Ahmad Yahya pernah sewa kamar di sana. Ciri yang kurang lebih sama dengan apa yang Tjokro buat di Peneleh.

Bekas kantor PSII di jalan yang diambil dari nama jalan pendirinya itu adalah penanda penting bagi dinamika politik lokal. 1955, pemilihan umum pertama Indonesia pasca proklamasi 1945, Sulawesi Tengah belum juga ada sebagai nama, jejak Tjokro itu ada 5 besar perolehan suara nasional.

Di tingkat lokal, nama itu di kemudian hari berkembang menjadi lembaga pendidikan yang terlalu identik sebagai sekolah para remaja yang keras kepala, susah diatur, dan tidak diterima di sekolah negeri atau swasta yang lain. Dan saya lulus dari sana. SMA HOS Tjokroaminoto. Kesadaran yang datang belakangan.

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top