Nemu Jeda

KAMPUNG BARU: KOTA TUA DI KOTA PALU (1)

Neni Muhidin

Neni Muhidin

INDONESIA belum punya ensiklopedia tentang etimologi atau ilmu yang memberitahukan kepada kita muasal kata dalam bahasa Indonesia, kata-kata yang terangkum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ketiadaan itu menjadikan kesulitan tersendiri bagi upaya menempatkan kata yang biasanya menjadi nama dalam upaya menjelaskan apa saja dalam konteks sejarah. Misalnya, menempatkan Kampung Baru sebagai kata, sebagai nama, sebagai lokus historis: ruang, tempat, wilayah, lokasi, dan sederet pengertian yang sama untuk menjelaskan satu dari entitas unik di suatu kota.

Saya tidak ingin terlalu percaya pada Wikipedia yang seolah berpasrah, menyatakan kata Kampung berasal dari bahasa Portugis, Campo, atau dalam bahasa Kamboja, Kompong. Dari saudara senegeri di Sumatera sana, kata itu, Kampung, masih kata Wikipedia, berasal dari Aceh (Gampong), dan Minang (Kampuang).

Anehnya, di komputer mana pun yang saya gunakan untuk menulis, atau bahkan telepon genggam yang katanya pintar, setelah mengetuk spasi sehabis menulis kata itu, lalu pasti muncul opsi “auto-correct” yang mengganti kata kampung menjadi kampong. Kamu harus mengubahnya sendiri, manual. Cobalah. Seperti menulis kata teh yang menjadi the, atau komputer yang huruf k-nya berubah jadi huruf c. Kemajuan yang mendikte.

Kata itu, Kampung, bagi saya menjadi sama asingnya dengan kata Raja, Ratu, atau ke-raja-an yang identik Jawa untuk menandai suatu masa dalam seluruh perjalanan sejarah suku-suku bangsa di Nusantara.

Memang benar Portugis pernah singgah lama di Nusantara hingga akhirnya berakulturasi dengan Timor Leste. Persinggahan itu bisa mempengaruhi secara tidak langsung dalam hal bahasa. Atau ini yang lebih dekat, yang bisa secara langsung mempengaruhi. Abdullah Raqie atau yang lebih dikenal dengan nama Dato Karama, yang datang dari Tanah Minang membawa siar Islam ke Palu di abad 17, memperkenalkan Kampuang sebagai kata untuk melakukan penandaan ruang yang selanjutnya disebut Kampung Baru.

Sama. Saya tetap tidak ingin begitu saja percaya. Itu karena kebudayaan Kaili telah punya kata untuk lema kampung. Ngata. Kita bisa mengajukan beberapa nama. Yang paling dekat dari Palu tentu saja Ngata Baru, wilayah yang masuk dalam Kabupaten Sigi yang berbatasan langsung dengan Kota Palu.

Mari kita periksa hasil survei toponimi, penamaan rupa bumi yang disusun pada tahun 2011 oleh Bagian Administrasi Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Palu. Tidak ada kata Kampung di hasil survei itu. Kampung Baru yang masuk dalam Kecamatan Palu Barat itu secara resmi ditulis sebagai Kelurahan Baru. Makna dari penamaan Baru atas nama kelurahan tersebut oleh survei adalah “yang terakhir dibentuk.” Sejarah atas nama tersebut adalah karena sudah adanya kelurahan-kelurahan lainnya yang telah terbentuk pada saat penjajahan Belanda. Pertanyaannya, benarkah sudah ada kelurahan di masa controleur Belanda mondar-mandir di Gezaghebber alias yang kita kenal sekarang sebagai Gedung Juang itu? Palu diberlakukan sebagai kota administratif oleh Jakarta baru pada tahun 1978 sebagai penanda usianya, dan baru menjadi kota madya di tahun 1994.

Apalah nama. Mungkin ada baiknya juga melacaknya dari penanda. Berada dekat dari muara sungai besar yang membelah kota menjadi timur dan barat, secara geografis menjadikan Kampung Baru strategis sebagai tempat pertemuan (melting pot) beragam interaksi baik sosial maupun ekonomi. Jika pasar adalah penanda utama interaksi manusia, Kampung Baru punya sejak lama dan hingga sekarang. Juga toko-toko dan kuliner. Olehnya, ada pertemuan antara Kaili, Bugis, Arab, Tionghoa, dan belakangan suku-suku lainnya di sana, yang secara sosial tentu berinteraksi sedemikian rupa dalam wacana politik, budaya, dan agama.

Tiga ruas jalan utama di Kampung Baru diambil dari tiga nama politisi cum ulama besar dalam sejarah Indonesia modern. Wahid Hasyim, Agus Salim, dan Oemar Said Tjokroaminoto. Di ruas-ruas jalan itu terbentuk identitas baru yang melekat pada Masjid Jami, kisah Guru Tua, keluarga, dan muridnya (abnaulkhairaat), Partai Syarikat Islam Istiqamah, yang di masa selanjutnya melahirkan politisi, birokrat, seniman, budayawan, taipan lokal, hingga geng remaja Apastu (Anak Pasar Tua) dan Akamba (Anak Kampung Baru).

Lema Baru untuk sebuah kampung dalam interaksi di atas bisalah diasumsikan sebagai kebaruan dalam hal urban yang identik modernitas.

Woodard (1793) dan Sarasin (1905) menyebut Palu sebagai Town dan bukan City. Penyebutan itu bagi saya lebih relevan dengan wajah suburban (kampung) sekaligus urban (baru) pada kata dan nama Kampung Baru yang tentu saja mempengaruhi Palu, dulu dan hingga hari ini.

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top