Kuliner

Inilah Mandura, Makanan Khas di Setiap Lebaran di Palu

 

Mandura yang menjadi makanan wajib pada Lebaran Mandura di Kelurahan Baru Palu Barat.(Foto:Abdee/kabarSelebes.com)

Mandura yang menjadi makanan wajib pada Lebaran Mandura di Kelurahan Baru Palu Barat.(Foto:Abdee/kabarSelebes.com)

PALU, KABAR SELEBES – Tradisi lebaran di setiap daerah selalu dihiasi dengan sesuatu yang khas. Di Palu Sulawesi Tengah, selain Lebaran Arab atau Iwwadh yang dirayakan oleh masyarakat keturunan arab, masyarakat Palu khususnya di Kelurahan Baru juga memiliki tradisi sendiri setiap selesai Idul Fitri.

Namanya Lebaran Mandura yang diperingati setiap 7 syawal. Lebaran mandura yang diadakan di masjid Jami Kelurahan Baru (Kampung Baru) ini mempunyai kekhasan tersendiri yaitu membuat makanan berupa mandura.

Mandura sendiri adalah makanan yang terbuat dari beras ketan, terdiri dari 3 jenis warna yaitu putih, hitam dan merah yang di dibungkus dengan daun pisang dan dimasak.

“Filosofi mandura juga memiliki makna tersendiri, dimana putih simbol kesucian, merah lambang keberanian dan hitam sebagai lambang keadilan,” kata Intje Rahma Borahima, sekretaris umum  Dewan Kesenian Sulawesi Tengah yang juga cucu pendiri Masjid Jami Kampung Baru H. Ibrahim atau Borahima atau dikenal juga dengan panggilan Pua Langgai.

Tradisi mandura sendiri  sebenarnya telah ada sejak abad ke 18. Namun baru empat tahun dipopulerkan oleh masyarakat dan jamaah mesjid Jami Kampung Baru.

Karena terbuat dari ketan yang padat, Mandura dikenal bisa bertahan hingga 6 bulan jika dimasak dan dibungkus dengan baik.

Nantinya setelah Halal bi halal, salam-salaman dan silaturahmi, mandura yang telah disusun di sebuah wadah kemudian di perebutkan oleh masyarakat yang diharapkan kerukunan dan silaturahmi antar manusia terjalin lebih erat.(asti Amanda)

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top