Nemu Jeda

HAGALA

 

Neni Muhidin

Neni Muhidin

SAYA memeriksa kamus Kaili Ledo – Indonesia – Inggris yang disusun Donna Evans. Tak saya temukan kata itu. Hagala. Itu karena kata itu rasanya hanya ada dalam percakapan orang yang tinggal atau pernah di Palu.

Saya mencari di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tidak ada. Juga di layanan perangkat lunak HP yang menyediakan terjemahan dalam beragam bahasa dunia. Nihil.

Saya bertanya kepada kawan yang ahli bahasa Arab. Bahasa itu dia geluti tidak sekadar sebagai hobi, tapi juga akademik, bahkan dalam pendekatannya yang sastrawi. Itu karena saya curiga, hagala, bisa jadi bermula dari sana. Dan Arab telah berakulturasi sedemikian lama dengan Nusantara sejak belum lagi mulut kita mengeja Indonesia. Jangan-jangan hagala memang dari Arab.

Juga bukan. Hagala yang bermakna hadiah jelang lebaran itu bukan dari Arab. Kata kawan saya, pun Hadiah yang bahasa Indonesia adalah serapan dari bahasa Arab, Hadiyyah.

Alif Danya Munsyi alias Remy Sylado hingga harus menegaskannya dalam buku 9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing (1996). Dari sastrawan yang kaya akan ensiklopedia bahasa ini, saya suka tersenyum sendiri saat membaca catatan-catatan kaki di karangan-karangannya yang identik sejarah. Ambil contoh kata Kakus alias wc yang ternyata dari bahasa Belanda, Kak Huis, rumah tai. Atau judes yang terinspirasi dari Judas yang Yahudi.

Saya bertanya pada beberapa teman yang tinggal di luar sana, maksud saya, yang tidak tinggal di Palu, apakah mereka juga menggunakan, atau paling tidak mengenal hagala yang setara angpao dalam tradisi Imlek. Sama. Tidak dikenal.

Tapi memang tidak semua hal punya penjelasan. Dalam bahasa, tidak semua kata ada etimologinya, ilmu pengetahuan untuk melacak muasal kata. Mungkin saja, hagala masuk pada apa yang disebut dalam istilah bahasa sebagai onomatope atau pemberian nama atas bunyi. Semisal tertawa jadi wkwkwk, hihihi, hehehe, atau guk untuk mengasosiasi anjing, kambing yang mbeekkk dan dibakukan menjadi mengembik. Dan onomatope beda di masing-masing tempat, sesuai kesepakatan.

Karena tak ada penjelasannya dan agar tulisan ini tidak golojo juga hanya ke soal bahasa, baiknya tulisan ini memang mengarah ke substansi saja, pada makna kata hagala.

Oh ya, ada yang asing di paragraf sebelumnya. Golojo alias rakus, serakah. Kata itu dari negerinya Christiano Ronaldo, Portugis. Guloso. Kok bisa? Negeri itu pernah lama di Timur Indonesia.

Tapi buat apa juga menjelaskan substansinya jika hagala memang telah dipahami maksudnya. Maksud saya, dalam pemahaman itu, kita akan memosisikan diri, menjadi pemberi atau peminta hagala. Akan lebih baik bertanya, sudah dapat hagala? Jika sudah, alhamdulillah, jika belum haga la. Melongo saja.

Selamat berlebaran ya. Dan berliburan. Maaf lahir batin.

Comments

comments

Terpopuler Minggu Ini

To Top