Nemu Jeda

Menelan Ludah di Tengah Puasa

Neni Muhidin

Neni Muhidin

SAYA YAKIN, di tengah puasa Ramadhan di siang bolong, saya pernah, sekalipun hanya sesaat, mungkin bahkan cuma selewat dan terasa seperti hanya bergerak di bawah sadar, tidak penting, tidak begitu saya pikirkan –menonton dari layar televisi iklan-iklan menjeda acara, menggaruk kerongkongan, perut, syahwat, sejak sirup, camilan, mie instan, minuman ringan yang dingin dengan tampilan botol-botol atau gelas-gelas yang berdenting, berkeringat, atau lelehan kecap di permukaan daging, hingga beragam bumbu yang telah bercampur menjadi masakan dengan tampilan menawan, yang semuanya itu kemudian dimasukkan ke dalam mulut bintang iklan, hap! dikunyah, dijilat sedemikian rupa, dicecap, tidak jarang bahkan harus diciptakan dalam waktu yang singkat khas iklan, sendawa yang bukan karena ingin menyampaikan maksud tersebab masuk angina karena dingin, tetapi karena kekenyangan, notoga kata Ayuba Lasira, maknyus kata Bondan Winarno, slurppp dalam istilah lainnya di media sosial. Lalu saya memahami, meyakini, menerima, permisif, mungkin bahkan menikmati semua iklan di televisi itu, atau yang bukan iklan ketika tampilan suara dan gambar bergerak di kotak layar kaca memperlihatkan orang yang sedang makan atau minum; dengan cara yang jenaka, menjadikannya sekadar sebagai meme saja, yang dipublikasikan ke semua kanal informasi dari gawai yang saya genggam, bergurau di tengah lapar dan dahaga, semisal kurma dan kecoa atau semua hal yang tidak masuk di akal bisa masuk di mulut, jam yang semua angkanya menjadi enam, atau judul berita Diduga Tidak Kuat Menunggu Azan Magrib Seorang Jomblo Nekad Azan Sendiri; juga tidak jarang menjadikan apa yang tampak di televisi sebagai inspirasi bagi menu berbuka hari ini, besok, lusa, sampai lebaran tiba dan semuanya dalam iklan itu harus ada, beberapa di antaranya mesti tersedia jelang berbuka, dibeli, dikonsumsi, disediakan semuanya sebagai hidangan di atas meja makan keluarga. Di situasi yang lain, saya akan menganggap semua orang bisa mendapatkan uang dengan cara yang sama seperti yang saya terapkan, padahal nyatanya beda dan penuh perjuangan, karena sebagian besar orang malah harus produktif berjualan di tengah Ramadhan, sama seperti rumah produksi iklan atau pegawai yang sudah pasti gajian dan jelang hari raya dapat tunjangan, bisa sama beli baju lebaran, pulang mudik ke kampung halaman, syukur bisa bagi-bagi hagala buat keluarga, dan ternyata, tetap harus makan, di tengah jualan makanan dan minuman yang untungnya juga tidak seberapa hebat jika dibanding bisnis kuliner waralaba yang modal usahanya bekerja serupa tangan gurita; dan saya hanya bisa melihatnya sebagai gejala tahunan, warung-warung dirazia oleh ritus terbitnya surat edaran, dan polisi pamong praja datang atas nama toleransi, menegakkan aturan agar puasa dihormati, mereka bekerja juga, sama seperti yang digerebeknya. Jika warung makan dianggap mengancam pada entah toleransi atau iman, maka olehnya harus diatur agar orang-orang yang berpuasa tidak tergoda, saya tidak percaya, karena puasa mestinya menjadikan setiap orang tampil lebih empatik, lebih toleran, lebih beriman, meski saya naif juga karena puasa sering kali hanya, mengutip ulama, menahan lapar dan dahaga, dan kamu tahu, bukan, lapar tambah haus, dan di waktu yang bersamaan dikali marah dan dibagi logika: adalah semua dalam diri manusia berpuasa, kecuali ludah, yang harus selalu dibuang atau tanpa sengaja, tertelan.

Comments

comments

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Terpopuler Minggu Ini

To Top